Islam adalah agama sekaligus peradaban. Di dalamnya terdapat berbagai macam aturan yang meliputi setiap aspek kehidupan manusia. Peradaban yang dibangun Islam adalah peradaban yang berkeadaban bukan peradaban yang berkebiadaban.

Dalam artian, peradaban yang didasarkan pada tradisi-tradisi keislaman dan pandangan hidup (worldview) Islam yang telah dibangun oleh para Salafus-Salih berlandaskan kitab suci Al-Qur’an dan Sunah Nubuwwah.
Di samping itu, Islam juga merupakan agama yang syamil, kamil dan mutakamil. Syamil berarti ajaran Islam bersifat menyeluruh tanpa dibatasi ruang dan waktu. Kamil berarti ajaran yang dibawa oleh Islam telah sempurna, mencakup seluruh lini kehidupan. Sedangkan mutakamil berarti Islam merupakan agama penyempurna dari agama-agama sebelumnya yang telah dibawa oleh para Nabi pendahulu. Dengan demikian Islam tidak membutuhkan adanya penambahan dan pembaharuan apalagi pengurangan.
Akan tetapi belakangan ini muncul berbagai macam pemikiran yang tidak hanya menyudutkan Islam dan umatnya bahkan juga pendistorsian makna Islam. Di era yang sering disebut postmodern ini, tekanan terhadap Islam datang dari berbagai aspek, tidak terkecuali dari ranah pemikiran. Infiltrasi pemikiran (ghazwul fikr) sepertinya tidak bisa dihindarkan para cendekiawan muslim yang seharusnya mereka berperan menjadi benteng pertahanan aqidah umat, justru malah balik menyerang aqidah umat. Ini tidak lain dikarenakan mereka telah terpengaruh oleh pandangan hidup (worldview) barat dengan paham sipilis-nya (sekularisme, pluralisme dan liberalisme). Karena diawali dari kerangka berpikir (framework) barat, akhirnya tradisi keilmuan yang mereka bangun pun tidak bisa lepas dari hegemoni barat.
Sebagai mahasiswa dengan background studi keislaman, apalagi yang berkecimpung dalam wilayah pemikiran-ushuluddin-, sudah seharusnya kita memiliki pemahaman yang lebih mendalam serta mengerti benar metode-metode (manahij) yang dapat digunakan untuk men-counter dan mencegah infiltrasi pemikiran. Agar pemikiran-pemikiran yang tergolong nyeleneh -keluar ataupun menyimpang- dari tradisi keislaman dapat segera dibendung dan dicegah sebelum menjalar keranah yang lebih luas.

Oleh: Alex Nanang Agus Sifa (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Aqidah Filsafat ISID Gontor)

Iklan