Zaman dulu orang-orang jahiliyah selalu direpotkan dengan jadwal penyembahan. Pagi ini mereka harus menyembah matahari. Siang nanti mereka harus menyembah bumi. Sedangkan malam nanti mereka harus menyembah bulan dan bintang. Setiap hari mereka menyembah Tuhan yang berbeda-beda. Untuk setiap tempat tertentu dipercayai ada Tuhannya. Di pohon besar ada Tuhannya, di batu besar ada Tuhannya, di gunung, di sungai dan di laut sekalipun ada Tuhannya sendiri-sendiri. Belum lagi di keris, di tombak, di cincin dan di benda-benda pusaka yang mereka miliki juga terdapat Tuhan. Betapa repotnya, jika mereka harus memberi sesaji, membakar kemenyan dan memandikannya setiap malam-malam tertentu yang dianggap keramat. Berapa banyak Tuhan yang harus mereka sembah?
Untuk masing-masing Tuhan ada sesajen khusus. Setiap tahun mempunyai cara-cara peribadatan sendiri-sendiri.

Jangan sampai Tuhan-Tuhan itu kekurangan sesajen. Bisa-bisa mereka marah besar. Karena jika Tuhan-Tuhan yang mereka sembah murka, maka pastinya mereka akan celaka. Jangan pula Tuhan yang mereka sembah iri satu sama lain. Persembahan kepada Tuhan-Tuhan itu harus adil. Jika Tuhan itu sudah saling iri, bisa-bisa mereka saling berkelahi. Apa jadinya kalau Tuhan-Tuhan itu saling memukul, mungkin setiap hari bumi ini akan kiamat.
Begitu juga dengan para penyembah berhala. Mereka menyembah Tuhan yang mereka buat dengan bentuk dan ukuran sesuai keinginan mereka sendiri. Ada yang berbentuk manusia, sapi, bahkan yang lebih lucu lagi ada Tuhan dalam bentuk manusia sekaligus sapi. Bahan-bahan dasar dalam pembuatan Tuhan pun berbeda-beda, mulai dari batu, kayu sampai roti, diperparah lagi setelah peribadatan kepada Tuhan dianggap selesai, Tuhan yang tadinya disembah (yang berasal dari makanan-roti) kemudian dimakan dan mereka meresa puas karena mereka berhasil memakan Tuhan.
Tidak jauh beda dengan Tuhan-Tuhan yang disembah oleh kaum nasrani (yang dulunya dianggap masuk kategori agama samawi, tetapi sekarang sudah diragukan ke-samawian-nya bukan?). Mereka punya tiga Tuhan sekaligus. Mereka beranggapan bahwa yang dimaksud tiga Tuhan (trinitas/التثليث) itu adalah satu kualitas dengan tiga kuantitas, tiga oknum yang esensinya satu. Tapi bukankah itu hanya sebuah hujjah untuk men-justifikasi pendapat atas keyakinan mereka?. Terbukti keyakinan mereka -utamanya pada injil (perjanjian baru/the bible)- yakni kitab suci yang mereka anggap sakral, ternyata malah diragukan oleh para cendikiawan nasrani sendiri. Yakni pada tahun 1993, dengan diterbitkannya sebuah buku ilmiah yang berjudul “The Five Gospels”. Penelitian yang berlangsung selama 6 tahun dan terdiri dari lebih 70 doktor theology Kristen dari berbagai afiliasi gereja (sebagian mereka bahkan professor bidang perjanjian baru) itu berkesimpulan bahwa dalam bible hanya 18% perkataan Yesus yang dianggap asli. Bukankah ini juga menunjukkan bahwa Tuhannya kaum nasrani masih diragukan?
Subhanallah, Maha Suci Allah SWT dari sifat-sifat buruk yang mereka bayangkan. Bagi kita sebagai muslim, Tuhan itu cukuplah satu. Cukuplah Dia saja yang kita sembah dan kita ibadahi. Tidak perlu-lah kita menyembah Tuhan banyak-banyak. Allah-lah sendiri yang mampu mencipta, mengatur dan memelihara alam semesta. Di tidak butuh yang namanya sekutu (partner). Dia tidak memerlukan berserikat dalam segala urusan.
Sungguh berbahagia kita sebagai umat Islam. Kita tidak pernah merasa kebingungan mau menyembah Tuhan yang mana pada hari ini. Karena kita sudah punya Tuhan Yang Satu (Ilahun waahid La Syarika Lahu). Tuhan kita tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Siapa-pun yang merasa berislam, berarti dia hanya mempunyai satu Tuhan, yaitu Allah SWT, yang tidak berawal dan tidak berakhir serta tidak menyerupai sesuatu apapun dari makhluknya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Asy-Syura ayat 11:
(Tidak Ada Sesuatupun Yang Serupa Dengan Dia, dan Dia-Lah Yang Maha Mendengar dan Melihat).
Dari pembahasan sederhana di atas setidaknya bisa menambah, memperkokoh serta memperteguh keyakinan dan keimanan kita terhadap Tuhan yang kita sembah (Allah SWT), ibarat sebuah pohon yang akarnya menjulang ke dalam tanah dan sulit untuk tergoyahkan. Akhirnya sebagai kalimat penutup “kita bukanlah penganut polytheisme yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu banyak, dan kita juga bukan para penganut atheisme yang berkeyakinan bahwa tidak ada tuhan dan hidup adalah materi ( لااله والحياة مادة), tapi kita adalah muslim yang mengakui monotheisme yaitu agama tauhid yang hanya mengakui satu Tuhan yaitu Allah SWT. Wallahu ‘Alam bish-Shawwab….

Oleh: Alex Nanang Agus Sifa (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Aqidah Filsafat ISID Gontor)

Iklan