o Lahir di Kuffah dan hidup pada masa Bani Abbas.
o Al-Kindi adalah filsuf yang mempelopori mempertemukan agama dengan filsafat Yunani.
o Dia adalah penganut aliran eklektisisme ( suatu kepercayaan yang tidak mempergunakan atau mengikuti metode apapun yang ada melainkan mengambil apa yang paling baik dari metode-metode filsafat.

o Filsafat menurut Al-Kindi adalah upaya meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan manusia.
o Al-Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles yang mengatakan bahwa bumi itu abadi.
o Menurutnya alam materi adalah alam yang bertabiat musnah.
o Dia berpendapat bahwa filsafat sejalan dan dapat mengabdi dengan agama.
o Pengetahuan menurutnya ada tiga macam: pengetahuan inderawi, pengetahuan rasional dan pengetahuan isyraqi atau iluminatif.
o Tentang metafisika dia mengatakan bahwa filsafat yang tertinggi martabatnya adalah filsafat pertama yang membicarakan tentang Causa Prima.
o Dari segi filsafat, argumen Al-Kindi sejalan dengan argumen Aristoteles tentang Causa Prima dan Penggerak Pertama, penggerak yang tidak bergerak.
o Etika menurut Al-Kindi juga dibagi menjadi tiga bagian: kebijaksanaan (hikmah), keberanian (syaja’ah), dan kesucian (‘Iffah).
o Menurutnya kebahagiaan terletak pada jiwa bukan pada yang dimiliki jiwa.
o Al-Kindi amat percaya kepada kemampuan akal untuk mengetahui pengetahuan yang benar tentang realitas, tetapi dalam waktu yang sama diakuinya pula keterbatasan akal untuk mencapai kebenaran metafisis.
o Dia tidak sependapat dengan filsuf Yunani dalam hal yang dirasakan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang diyakininya.
o Dan dia tidak termasuk filsuf yang dikritik Al-Ghozali dalam kitabnya Tahafutul Falasifah.

Oleh: Alex Nanang Agus Sifa (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Aqidah Filsafat ISID Gontor)

Iklan