Dari Ibnu Umar RA berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
(HR Abu Dawud No. 3512)
Dari Abu Sa’id Al-Khudhri RA, dari Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian jengkal demi jengkal dan hasta demi hasra, sehingga sekiranya mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan tetap mengikuti mereka! “Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani? “Beliau menjawab: Maka siapa lagi (kalau bukan mereka)?”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati-hati memasuki bulan Februari! Barangkali demikian pesan yang harus disampaikan bagi para remaja, tak terkecuali kita sebagai mahasiswa. Betapa tidak, di bulan ini tidak sedikit remaja Islam tersesat ke lembah kesesatan. Dimulai dengan taqlid, menerima apa saja yang datang dari barat tanpa dipilih dan dipilah, akhirnya tanpa sadar mereka terjerumus dalam tradisi sesat yang dapat mencabut aqidah dari akarnya dan menodai kesucian akhlak tanpa adanya rasa bersalah, karena dilakukan atas nama cinta yang kata mereka “cinta tak pernah salah”. Na’udzu billahi min dzalik.
Valentine’s day atau biasa disebut hari kasih sayang jatuh pada tanggal 14 Februari. Pada hari itu orang saling mengirimkan kartu ucapan selamat (greeting card) atau SMS (Short Message Service) yang disebut valentine. Valentine-valentine itu dikirim kepada teman, anggota keluarga atau pun orang-orang yang dikasihi. Biasanya berisi ucapan-ucapan cinta yang sentimental. Selain berbentuk kartu, valentine dapat berbentuk gift (hadiah) yang berisi coklat atau pun bunga-bunga. Selain saling berkirim valentine, mereka pun memperingatinya dengan cara mengadakan pesta-pesta, dansa, menyanyikan lagu cinta dan tidak sedikit yang mengakhirinya dengan sex bebas (free sex).
Latar Belakang Sejarah Valentine’s Day
Untuk dapat lebih memahami persoalan ini, ada baiknya kita telusuri jejak sejarah dari mana tradisi sesat ini berawal. Dalam The encyclopaedia Americana vol XXVII, halaman 860 disebutkan bahwa Valentine’s Day adalah: A day on wich lover traditionally exchange affectionate message and gift, it is observed on February 14, the day on wich saint valentine was martyred, (sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisi saling berkirim pesan-pesan cinta dan hadiah-hadiah, hari itu diperingati pada tanggal 14 Februari, suatu hari dimana Saint Valentine menjadi martir (semacam syahid di dalam Islam).
Siapa Saint Valentine itu?
Saint Valentine adalah seorang uskup dari kota Interamna. Ia dihukum mati oleh kaisar Cladisius II (sekitar abad 3 M) karena dianggap melanggar peraturan kaisar yang melarang para pemuda kawin. Situasi saat itu mungkin menuntut kaisar untuk memperbanyak prajurit, sementara pemuda yang belum kawin dianggap lebih potensial untuk menjadi prajurit yang tangguh. Namun Saint Valentine melanggar peraturan tersebut. Dengan diam-diam ia mengawinkan sepasang anak muda. Akhirnya ia dihukum mati oleh kaisar pada tanggal 14 Februari 270 M. Eksekusi pun dilaksanakan di jalan flamina. Jalan kuno yang membentang dari kota Roma menuju Cisalpine Gaul.
Budaya Sinkritisme
Seperti halnya upacara ritual yang berlaku di agama Nashrani lainnya, yang umumnya merupakan hasil sinkrikisme (perpaduan) dari berbagai kebuadayaan, tradisi valentine pun ternyata mempunyai kaitan erat dengan tradisi yang dilakukan masyarakat Romawi kuno. Kenyataan ini diungkapkan dalam Every man’s encyclopaedia, vol XII halaman 388 sebagai berikut: the custom of sending valentines probably had its origin in a heathen practice connected with the worship of Juno Februaris at the Lupercalia, (kebiasaan saling berkirim valentine barangkali berasal dari upacara penyembahan berhala yang dikaitkan dengan peribadatan Juno Februaris di gua Lupercalia.
Lupercalia merupakan upacara ritual yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Februari untuk menyembah dewa Lupercus, yang diyakini sebagai dewa kesuburan, dewa padang rumput dan pelindung ternak. Juga dihubungkan dengan penyembahan pada dewa Faunus yang diyakini sebagai dewa alam dan pemberi wahyu, upacara tersebut dipimpin oleh satu badan keagamaan yang disebut Luperci.
Setelah upacara tersebut selesai, sebagai pelengkap kemudian diadakan acara tambahan. Gadis-gadis membuat pesan-pesan cinta dan menempatkannya dalam jambangan besar, kemudian para pemuda mengambilnya, masing-masing satu. Para pemuda itu kemudian berpasangan dengan gadis yang pesannya diambil. Dilanjutkan dengan acara dansa semalam suntuk dan diakhiri dengan hubungan cinta.
Pada tahun 494 M, dewan gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I mengubah bentuk upacara Lupercalia menjadi perayaan Purifikasi (pembersihan diri). Dua tahun kemudian sang Paus mengubah tanggal perayaan Purifikasi yang berasal dari upacara Lupercia ini dari tanggal 15 Februari menjadi tanggal 14 Februari, sehingga bertepatan dengan meninggalnya Sint Valentine. Upacara inilah yang kemudian dikenal dengan nama valentine’s day.
Peringatan valentine’s day ini pun terus berlangsung. Pada permulaan abad ke-15 orang-orang Inggris mulai memperingatinya dengan saling mengirimkan kartu yang digambar dengan tangan. Kemudian sekitar abad ke-19, kartu-kartu ucapan dibuat dengan media cetak mulai beredar dan dikomersilkan. Kebiasaan ini pun akhirnya terus berlanjut sampai sekarang.
Kesimpulan
Bila sejarah perayaan valentine’s day yang menyesatkan itu adalah berasal dari orang-orang nashrani yang dicampuradukkan dengan kebudayaan orang-orang Romawi kuno para penyembah berhala, lalu mengapa kita sebagai generasi muda -bahkan yang sedang mencari ilmu di institusi-institusi Islam- begitu antusias sekali memperingatinya dan dijadikan satu moment yang melambangkan kemenangan sebuah cinta. Padahal dalam Islam kasih sayang bukan hanya sehari dalam setahun. Seharusnya setiap hari kita menebar kasih, menebar sayang dan menanam cinta. Tentu saja dilandasi dengan rasa kasih, sayang dan cinta kepada Allah SWT. Itulah yang diharapkan dari seorang muslim yang baik. Sekarang mari kita buang jauh-jauh rencana kita untuk ikut-ikutan merayakan valentine, karena itu tidak terdapat aturan dalam Islam. Tidak sadarkah kita bahwa semua itu akan menghancurkan bangunan aqidah Islam dan menghancurkan kehidupan generasi Islam?

Oleh: Alex Nanang Agus Sifa (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Aqidah Filsafat ISID Gontor)

Iklan