Tidak ada satu bangsapun di dunia ini yang mau terjajah oleh bangsa lain. Sebaliknya, setiap bangsa tentunya memiliki kecenderungan bahkan keinginan agar dapat berpengaruh terhadap bangsa lain. Untuk dapat meraih dan mewujudkan pengaruh tersebut banyak cara yang digunakan. Yahudi merupakan bangsa yang memiliki kecenderungan yang sangat besar. Kecenderungan itu tidak hanya ingin berpengaruh terhadap bangsa-bangsa yang lain, akan tetapi lebih dari itu. Yahudi juga berambisi untuk menguasai dunia secara keseluruhan.

Kemahiran dan kepiawaian zionis Yahudi di dalam mempengaruhi para tokoh dan pemimpin dunia mempermudah dominasi mereka atas media massa. Akibatnya, masyarakat internasional tidak dapat menikmati informasi (berita tentang kejadian yang sebenarnya terjadi di dunia) kecuali informasi yang telah dimanipulasi dan disajikan oleh zionis Yahudi.
Pada dasarnya kesuksesan dan keberhasilah bangsa Yahudi tersebut tidaklah datang secara tiba-tiba, akan tetapi lebih merupakan hasil perjuangan panjang dan kerja keras serta melalui perencanaan yang matang. Karena mereka mengetahui benar, bahwa satu-satunya jalan untuk memperbaiki citra di mata masyarakat internasional adalah dengan mendominasi media massa internasional.
Hal tersebut terbukti sebagaimana strategi yang telah dirancang oleh mereka pada konferensi zionis Yahudi pertama yang berlangsung di Swiss pada tahun 1897, yang digagas oleh Theodor Hertzl. Dalam konferensi tersebut dihasilkan keputusan-keputusan yang tercantum pada protokol nomor 12 yang berbunyi:
“Salah satu peran media massa akhir-akhir ini adalah untuk membangkitkan opini rakyat yang keliru. Hal ini dapat membangkitkan emosi rakyat. Kadang juga bermanfaat guna mengobarkan konfrontasi antar partai politik, tentunya akan menguntungkan pihak kita. Apalagi saat mereka sedang bertikai, kesempatan yang baik bagi kita untuk mengadu domba. Akan tetapi, dengan media massa, kita juga dapat memakainya sebagai ajang untuk orang yang tidak mengerti kesemuanya itu. Kita akan mengendalikan peran media ini dengan sungguh-sungguh. Sastra dan pers adalah dua kekuatan yang amat berpengaruh. Kita harus menguasai sepenuhnya peranan penerbitan, tanpa kecuali. Jika kita buka pintu lebar-lebar kesempatan media massa untuk menyuarakan maksudnya tanpa pengawasan ketat dari pihak kita, tak ada gunanya sedikitpun strategi yang telah kita sepakati bersama.”
Dari pernyataan tersebut, setidaknya ada lima hal yang menjadi proganda zionis Yahudi. Pertama, bangsa Yahudi berusaha untuk menguasai dunia pers dan mengendalikannya. Kedua, bangsa Yahudi tidak akan memberi kesempatan kepada media massa non-Yahudi yang memuat gagasan-gagasan anti Yahudi. Ketiga, bangsa Yahudi melakukan sensor ketat sebelum berita disiarkan. Keempat, bangsa Yahudi mempengaruhi opini publik. Kelima, bangsa Yahudi menerbitkan berbagai macam media massa dengan tujuan menguasai dunia, agar mereka bisa leluasa dalam bertindak sesuai dengan keinginannya.
Demikianlah, Zionis Yahudi jauh-jauh hari sudah mempersiapkan langkahnya dengan memprogram sebuah “imperialisme media massa” untuk mencapai tujuannya. Akhirnya, bangsa Yahudi yang sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang bengis, sadis, biadab dan tidak berhati nurani bisa berubah sebagai bangsa yang beradab, bersih dari kesalahan, cerdas dan citra positif lainnya dikarenakan dominasi mereka atas media massa. Bukan hanya sampai di situ, dengan mendominasi media massa, mereka juga dapat menyerang dan menaklukan setiap kekuatan yang dianggap sebagai ancaman bagi mereka, utamanya adalah kekuatan islam.
Terbukti pada era sekarang ini, bangsa Yahudi telah menguasai link media massa yang utama, mencakup kantor-kantor terkemuka di dunia, jaringan internet, surat kabar (pers), industri film dan program televisi maupun radio, serta industri percetakan, dan berbagai macam penerbitan (publishing). Ini semua tidak lain kecuali bertolak dari misi yang telah mereka canangkan sebelumnya yaitu untuk mempengaruhi dunia internasional tak terkecuali dunia islam.
Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi umat islam untuk lebih berhati-hati dalam menerima setiap informasi. Jangan sampai informasi yang baru saja didapatkan, langsung ditelan secara mentah-mentah tanpa proses check & recheck, apalagi bagi kita yang notabene sebagai mahasiswa. Kita harus bersikap lebih kritis dan cerdas dalam menerima setiap informasi apapun yang disodorkan oleh media massa. Dengan bersikap demikian, kita tidak akan terus-terusan terkungkung (terhegemoni) oleh pengaruh dan cengkraman Yahudi yang sesat dan menyesatkan.

DAFTAR PUSTAKA
Arrfa’I, Fuad bin Sayyid abdurrahman, Annufudzul Yahudi; Fil-Ajzihatil I’lamiyyah Wal-Muassasatid Duwaliyah (Daarul Majd: 1987 M/1407 H, cet ke-1)
Carr, William Gay, Yahudi Menggenggam dunia (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004, cet ke-4)
Husaini, Adian, Penyesatan Opini; Sebuah Rekayasa Mengubah Citra (Jakarta: Gema Insani, 2005, cet ke-2)
Romli, Asep Syamsul M., Demonologi Islam; Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 2000, cet ke-1)

Oleh: Alex Nanang Agus Sifa (Mahasiswa fakultas Ushuluddin Prodi Aqidah Filsafat ISID Gontor)

Iklan